Perawat itu di bawah Dokter? Saya Jawab… NO !!!!

Assalamualaikum mas bro mba bro

iimvixby – Pengalaman praktik di beberapa Rumah Sakit Besar di Banjarmasin, membuat saya memahami berbagai macam karakter manusia yang dirawat didalamnya. Dari yang kurang mampu, pegawai, maupun orang berada.Hal yang paling mendasar adalah tempat rawat inapnya. Tentu orang berada maunya suatu ruangan yang private, ekslusif alias pengen hanya ada dia sebagai pasien dan keluarga saja. Berbeda dengan kelas bawah, satu ruangan bisa beberapa pasien dengan keluhan sejenis dan keluarga yang menunggu gabung dengan keluarga yang lain. Begitu sumpek memang. Ada harga ada kualitas, dan itupun juga berlaku di Rumah Sakit sekalipun ini adalah milik pemerintah.

Mendewakan Dokter, adalah kebiasaan dari segelintir pasien ataupun keluarga, memang kita akui profesi dokter adalah profesi mulia. Sebenarnya kami sebagai perawat tidak ingin dianggap bawahan dokter. Walau secara kasat mata perawat adalah demikian adanya. Namun perlu digaris bawahi bahwa, perawat sekarang setara dengan seorang dokter. Dimana pendidikan perawat sekarang adalah minimal Sarjana + Ners, dimana itu adalah sama dengan dokter yang kuliah Sarjana + Koas.

Segala yang dilakukan dokter, belum tentu perawat bisa melakukan, begitupula sebaliknya, tindakan keperawatan, belum tentu bisa dilakukan dokter. Karena kami adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dalam melakukan suatu tindakan medis dengan fungsi masing-masing.

Salah satu hal yang paling lazim dan memang salah fungsi, adalah dalam hal pemasangan infus. Ingat, pemasangan infus adalah tugas seorang Dokter! Bukan perawat, namun kenyataan dilapangan 99% dilakukan oleh perawat. Suatu pengalaman saat saya berpraktik di ruang IGD salah satu Rumah Sakit, ketika itu saya (pendidikan ners) mau memasang infus terlontarlah kata dari seorang calon Dokter yang juga sedang pendidikan Koas, ” ade, saya mau nyoba masang infus donk “. Terkejut saya dan tentu saya membolehkannya dan karena memang itu adalah tugasnya. Ini membuktikan bahwa sebenarnya yang punya tugas siapa?

Memang kenyataannya, Peran perawat digambarkan masih sebatas ‘’membantu’’ tugas dokter. Berdiri di samping dokter yang memeriksa pasien, sambil memegang kartu data pasien. Kemudian dokter memerintahkan sesuatu kepada perawat, lalu pergi keluar kamar periksa.

Siapa sebenarnya perawat itu? Munas VII Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Manado, Juli 2005, mendefinisikan perawat sebagai seorang yang lulus pendidikan formal dalam bidang keperawatan yang program pendidikannya disahkan oleh pemerintah. Sedangkan menurut PP Nomor 32 Tahun 1996, perawat dan bidan adalah tenaga keperawatan yang merupakan salah satu dari 7 tenaga kesehatan yang diakui di Indonesia.

Perawat yang diakui sebagai salah satu tenaga kesehatan, harus memenuhi syarat pendidikan formal untuk bekal merawat pasien. Keterampilan yang tampak dari luar merupakan aplikasi ilmu pengetahuan dan latihan yang diperoleh selama pendidikan. Dengan bekal ilmu dan keterampilan, perawat harus mampu memberikan asuhan keperawatan terhadap pasiennya tanpa intervensi pihak manapun.

Kemandirian seorang perawat akan nampak dari seberapa besar ia mampu mengelola masalah pasiennya, membuat rasa nyaman, dan damai, serta memfasilitasi pasien mengenal masalahnya sendiri. Output itu mustahil bisa berhasil tanpa pengetahuan dan skillyang memadai, kesediaan melayani dengan hati, serta kemampuan komunikasi yang baik dengan pasien.
Tugas Managerial Pendidikan formal perawat cukup beragam. Mulai sekolah perawat kesehatan (SPK) setingkat SMK, D3, bahkan sampai S3 (doktoral bidang keperawatan). Lingkup kerjanya pun tidak hanya di rumah sakit tetapi juga di masyarakat atau tugas nonklinis seperti tugas managerial di kantor Dinkes.

Selain sebagai profesional klinis, perawat memiliki keahlian sebagai pengajar, manager, dan peneliti. Di rumah sakit besar, perawat klinis memiliki keahlian spesialisasi seperti bedah, penyakit dalam, penyakit jiwa dan sebagainya.

Di mata sebagian masyarakat, perawat masih sering dinilai tidak memiliki ilmu dan tidak mandiri. Penilaian semacam ini bisa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena ketidaktahuan masyarakat akan tugas perawat. Tugas perawat yang langsung bersentuhan dengan pasien memengaruhi gambaran tugas secara keseluruhan.

Kebutuhan pasien, terlebih dengan tingkat ketergantungan yang tinggi, sangat membutuhkan bantuan perawat. Peran perawat masih sering nampak dalam kegiatan pasien sehari-hari seperti makan, minum, mandi, buang air besar/kecil. Tugas keseharian perawat semacam ini yang membentuk pandangan masyarakat menilai tugas seorang perawat tidak lebih dari pembantu rumah tangga.

Masyarakat tidak mengetahui keahlian perawat yang sesungguhnya. Pada saat perawat melakukan tindakan terhadap pasien yang menuntut keahlian, misalnya melakukan tindakan life saving di IGD atau ICU, pihak pasien selalu diminta keluar kamar.

batas kewenangan perawat sebagai bagian dari tim kesehatan di lapangan, tidak jelas. Gesekan, terutama dengan profesi dokter, acapkali terjadi. Grey area tugas dan kewenangan dokter dan perawat, sangatlah lebar.

Contohnya tugas mengobati pasien seperti menyuntik dan memasang infus sebenarnya menjadi area tugas dokter. Namun, di lapangan, hampir selalu dilakukan oleh perawat. Bahkan pada situasi darurat yang memerlukan kecepatan penanganan, seperti di IGD, ICU, daerah terpencil atau di lokasi bencana, perawat selalu menjadi andalan.

UU Keperawatan seharusnya bisa mengatur standar kompetensi, peran, dan fungsi perawat dalam tim kesehatan serta hubungan perawat dengan institusi atau pihak lain. Dengan UU ini perawat juga akan dilindungi dari tuntutan hukum. Perawat dalam kasus emergency harus melakukan tindakan yang bukan tanggung jawabnya.

Jika hasilnya tidak seperti yang diharapkan maka tudingan malpraktik bisa-bisa tertuju kepada perawat. Padahal Perawat sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dan paling lama berinteraksi dengan pasien adalah tenaga yang paling berisiko tertular penyakit. Ironisnya, kompensasi atas risiko ini belum diterapkan oleh semua institusi kesehatan.

Berikut contoh kasus perbedaan peran perawat dan dokter :

Kasus 1 :

Pasien mengalami batuk. Maka sesuai profesinya, yang dilakukan dokter ke pasien ini adalah memberikan obat batuk (misalnya dextral). Sedangkan yang dilakukan perawat atau asuhan keperawatannya adalah mengatasi masalah keperawatan apa yang timbul akibat batuk yang dialami pasien tersebut dengan cara melakukan pengkajian terlebih dahulu, seperti: kapan mulai batuk, terus-menerus atau waktu-waktu tertentu, berdahak atau tidak, jika berdahak perlu dikaji apakah pasien bisa mengeluarkan dahaknya, seperti apa dahaknya (jumlah, warna, konsistensi), apakah pernapasan pasien terganggu, bagaimana pola napasnya, apakah aktivitas pasien terganggu, jika ya maka perlu dikaji aktivitas seperti apa yang terganggu.

Jika pasien batuk dan dahaknya sulit keluar, maka perawat mengajarkan cara bagaimana batuk yang efektif untuk mengeluarkan dahaknya atau dengan memberikan fisioterapi dada maupun suction jika masih banyak dahak yang menumpuk di saluran pernapasan atau paru-paru. Jika pasien sulit bernapas, perawat menganjurkan pasien untuk tidur dengan posisi tubuh bagian kepala-dada lebih tinggi daripada panggul-kaki (posisi semi fowler). Selain itu, perawat juga mengkaji perasaan pasien. Jika pasien mengalami kecemasan/ansietas, maka hal ini juga perlu diatasi perawat.

Kasus 2 :

Pasien mengalami mual dan muntah. Dokter akan memberikan obat anti emetik untuk mengatasi masalah ini. Sedangkan asuhan keperawatan yang dilakukan perawat adalah mengatasi akibat dari mual muntah ini, seperti: memenuhi kebutuhan nutrisi untuk mengantikan nutrisi yang keluar saat muntah dan mencegah kurangnya nutrisi pada pasien; memehuhi kebutuhan cairan (air, elektrolit) untuk menggantikan cairan yang keluar tubuh dan mencegah terjadinya dehidrasi. Perawat juga perlu mengkaji perasaan pasien dan mengatasi jika ada masalah dengan psikologisnnya.

Nah saya harap bagi pembaca sudah tidak bingung apa beda perawat dan dokter, semua punya tugas masing-masing. Dimana keduanya merupakan kesatuan dalam hal kesembuhan pasien. Salah khilaf mohon maaf

Salam dari Borneo

Iklan

6 responses to “Perawat itu di bawah Dokter? Saya Jawab… NO !!!!

  1. pagi bu. saya setuju dengan apa yg ibu katakan. tp peda kenyataannya profesi perawat itu tergantung kepada individu masing masing. saya sudah membandingkan antara perawat disatu rumah sakit dan dirumah sakit lainnya didaerah lain. di rumah sakit di jakarta sebut saja rumah sakit X, perawatnya begitu berdedikasi. mereka merawat pasien dengan cekatan. mulai dari memandikan, membatu buang air, dll dsb. tp ketika saya melihat perawat di satu rumah sakit di daerah sebut saja rumah sakit M. perawatnya malah seperti jijik mengganti pakaian pasiennya. jijik merawat pasiennya yg sedang muntah muntah malah bergidik kepada saya dengan wajah seperti muak. saya loh heran, apakah peran dan tugas seorang perawat di satu rumah sakit dan dirumah sakit lainnya yg berbeda daerah itu juga beda? apakah waktu menjalani pendidikan sebagai perawat mereka tidak diberi pendidikan kasih tanpa jijik? bukankan tugas perawat merawat? kalau merawat itu bukannya juga termasuk memandikan, membantu buang air, mengganti pakaian pasien dll? apakah peran perawat sekarang hanya menyuntik dan memberi obat? hanya sekedar tensi dan ukur suhu tubuh? hanya sekedar kunjungan? kalau begitu saya juga bisa bu. saya salut dengan perawat, mereka yg bekerja lebih banyak dr dokter. saya lihat itu waktu alm. mama saya dirawat di sebuah rumah sakit di jakarta. saking berterima kasihnya setelah mama saya sembuh dan pulang dr rumah sakit kami sepakat memberi sesuatu kepada tim perawat yg sudah mau merawat mama saya dengan baik dan penuh kasih. bukan barangnya dan nilainya, tp penghargaan saya dan kami sekeluarga buat mereka. tolong agar perawat dididik lagi agar melayani dengan kasih.

    • Pertama tama, maaf saya bukan ibu, saya adalah laki-laki, menanggapi komentar anda itu, saya berkesimpulan, perawat itu terdiri atas pangkat dan jabatan, tingkatan yg tertinggi adalah perawat madya, dan terendah adalah perawat pelaksana /pemula, nah sebenarnya prinsip ini yg mungkin digunakan perawat dlm menjalankan tugasnya diruangan/bangsal. Perawat madya atau pembina, kebanyakan adalah perawat yg sudah lumayan berumur sehingga bisa dikatakan lebih “gengsi” turun tangan dan kontak langsung dengan pasien yg “menjijikan (ganti sprei, dll)” karena adanya perawat tingkatan terendah yaitu perawat pelaksana. Karena mereka berdalih sesuai jabatan dan pangkat. Namun sebenarnya pada hakikatnya mereka para perawat madya juga sebelumnya sudah pernah menjadi perawat pelaksana.

      Walaupun seharusnya yg namanya perawat ya harus merawat. Tak peduli pangkat jabatan. Karena pasien/keluarga tdk peduli akan hal itu. Yg penting pasien/ keluarga dilayani dgn baik dan mungkin itulah kekurangan dari perawat.

      Dan ditekankan lagi, memang saat pendidikan, perawat tdk melulu dijejali dengan ilmu kesehatan semata. Tapi juga mengganti sprei dll. Namun sesuai perkembangan zaman, ternyata tenaga tersebut sudah ada profesi baru yg melakukan. Bukan perawat lagi. (Tergantung kebijakan Rumah sakit apakah mau menambah tenaga pekerja), jikalau untuk melakukan BAB/BAK, kebiasaan pasien justru tdk mau ditemani perawat. Karena alasan privasi atau juga karena malu. Kebiasaan pasien lbh memilih keluarga yg mendampingi ketika hendak mengganti baju/BAB/BAK, sehingga para perawat tdk lagi menawarkan jasanya utk itu. Paling hanya memberikan edukasi bahwa harus hati hati. Kalau terpasang infus ya diperhatikan infusnya jangan begini atau begitu.

      Semoga terjawab

      • Jadi begini pak, kalau anda merasa disejajarkan tugasnya dengn dokter, apakah anda mempelajari secara detail bagaimna definisi smpai prognosa? Apakah anda belajar bagaimana memberi terapi? Apakah anda belajar bagaimana patofisio dan fisiologi penyakit? Apakah anda mengerti bagimana menggali diagnosa pasien? Anda tidak belajar itu pak, anda bilang sperti ini krna anda berpendidikan nurse. Anda masih berpindiikan nurse saja ngomongnya sudah selangit. Mayallah. Dokter dan perawat itu sama2 tenaga kesehatan yg saling bantu membantu dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Dan setiap penyakit itu ada jenjan kompetensinya, bisa kah anda melakukan oprasi apendicitis? Bisakah anda melakukan sc? Tidakkk krna kompetensi anda idak smpai disitu, jdi mohon maklumi peran masing2

      • saya disini hanya menekankan tentang peran masing2,ente malah komen apa… apa ente terprovokasi karena judul?

  2. Menilik kasus yg bapak gambarkan
    “Kasus 2 :
    Pasien mengalami mual dan muntah. Dokter akan memberikan obat anti emetik untuk mengatasi masalah ini. Sedangkan asuhan keperawatan yang dilakukan perawat adalah mengatasi akibat dari mual muntah ini, seperti: ***memenuhi kebutuhan nutrisi untuk mengantikan nutrisi yang keluar saat muntah dan mencegah kurangnya nutrisi pada pasien; memehuhi kebutuhan cairan (air, elektrolit) untuk menggantikan cairan yang keluar tubuh dan mencegah terjadinya dehidrasi***. Perawat juga perlu mengkaji perasaan pasien dan mengatasi jika ada masalah dengan psikologisnnya.” Kalimat yang saya beri tanda bintang, itu menggambarkan pasang infus tugas perawat atau tugas dokter?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s